Sosial Budaya

BELAJAR TOLERANSI DARI KABUPATEN FAKFAK UNTUK INDONESIA

‘SATU TUNGKU TIGA BATU’ MAMPU MENANGKAL SEGALA BENTUK DIKOTOMI DI KABUPATEN FAKFAK

Moment Karnaval tahun 2017, Peserta berusia anak-anak diperagakan berpakaian adat semua Etnis di kabupaten fakfak ft rustam

Oleh Rustam Rettob

Jika Anda pergi ke Papua Barat, jangan lupa mengunjungi Kabupaten Fak-Fak. Kabupaten Fak-Fak ini sudah berdiri selama kurang lebih 118 tahun, karena itulah Kabupaten Fak-Fak ini disebut sebagai kota perjuangan. Nah, selain itu ada hal yang menarik mengenai keadaan masyarakat di Kabupaten Fak-Fak ini, yaitu mengenai kerukunan beragamanya.

Soal kerukunan umat beragama, hal tersebut merupakan suatu hal yang tidak perlu ditanyakan dalam masyarakat di Kabupaten Fak-Fak. Tiga agama besar yang ada di Kabupaten Fak-Fak adalah Muslim, Katolik, dan Protestan. Dalam masyarakat di Kabupaten Fak-Fak, ada istilah satu tungku tiga batu.

Satu tungku tiga batu ialah istilah yang dipakai untuk menggambarkan bahwa di dalam satu keluarga, keanekaragaman dalam beragama itu merupakan hal yang biasa. Jadi, di dalam suatu keluarga, kerukunan tetap terjaga meskipun keyakinan mereka berbeda-beda.

Selain dikenal sebagai kota perjuangan, Kabupaten Fak-Fak juga dikenal sebagai kota pala, karena pala merupakan hasil komoditi yang dominan di kabupaten tersebut.

Mengunjungi Kabupaten Fak-Fak akan memberikan kenangan yang tak terlupakan dalam benak Anda. Menikmati pemandangan alam dan mengenal lebih dalam mengenai hal-hal menarik di kota perjuangan ini akan membuat pengalaman Anda semakin berkesan.

Diolah dari berbagai sumber, kerukunan hidup antar umat beragama di Papua. Tepatnya di Kabupaten Fak Fak, sebuah kota kecil di Provinsi Papua Barat. Kerukunan itu lahir dari sebuah filosofi yang berakar pada nilai-nilai budaya local yaitu ‘Satu Tungku Tiga Batu”,

Nyaris serupa dengan filosofi pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur ‘Tiga Batu Tungku’ pada era kepemimpinan Gubernur Piet A. Tallo (Alm), Bedanya, filosofi ‘Tiga Batu Tungku’ di NTT diaplikasikan untuk mensinergikan tiga aspek pembangunan prioritas saat itu, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Salah satu Masjid di Kampung patimburak dengan konstruksi bangunan berbentuk seperti Gereja

Sementara filosofi ‘SATU TUNGKU TIGA BATU’ di Kabupaten Fak Fak-Papua Barat untuk mendeskripsikan prinsip hidup warga Papua dalam menjaga keseimbangan dan kebersamaan hidup, antara lain melalui penghormatan yang tinggi terhadap pentingnya kerukunan hidup antar umat beragama yang ada di daerah itu, yakni Islam, Kristen, dan Katolik.

‘Tungku’ adalah kebersamaan hidup. ‘Tiga Batu’ adalah simbol dari tiga agama besar yang ada di daerah itu, yaitu Islam, Kristen Protestan, dan Kristen Katholik, Mereka meyakini, jika keseimbangan itu tetap terjaga stabil, maka semua persoalan hidup dapat diatasi dengan baik.

Semboyan ‘Satu Tungku Tiga Batu’ juga berarti sinergi yang harmonis antara tiga elemen masyarakat dalam pembangunan, yaitu Adat, Agama, dan Pemerintah. Sinergi artinya mengelola perbedaan agar tidak menimbulkan perpecahan. Pemerintah kabupaten FakFak juga menjadikan ‘Satu Tungku Tiga Batu’ sebagai modal dasar pembangunan di daerahnya. Kebebasan beragama sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Fak Fak.

Di dalam satu rumah terdapat perbedaan agama yang disebut agama keluarga, ada Hindom Islam, juga ada Hindom Kristen, ada Temongmere Islam, ada pula Temongmere Kristen, ada Hegemur Islam kemudian Hegemur Kristen, atas dasar itulah kehidupan di kabupaten fakfak susah dipisahkan dari kehidupan keluarga, berbangsa dan bernegara,

Kerukunan itu juga dipraktikan dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Warga Muslim sering diundang perayaan Natal. Demikianpun sebaliknya.

Kehidupan di kabupaten fakfak dengan slogan Satu Tungku Tiga Batu itu mereka jadikan itu sebagai jembatan dalam kehidupan antar sesame untuk saling menghormati satu sama lain,

Dengan 60 persen warganya yang menganut agama Islam,Fak Fak menjadi satu-satunya kabupaten di Provinsi Papua Barat dengan pemeluk Islam terbesar. Sementara kabupaten-kabupaten lainnya mayoritas beragama Kristen dan Katolik.

Dalam konteks kebersamaan, suku Mbaham Matta adalah sebutan untuk masyarakat asli Fak Fak, baik yang tinggal di pegunungan, pantai, Kota dan pulau-pulau kecil. Namun untuk kebersamaan, warga asli Fak Fak menganggap warga non Papua sebagai warga Mbaham Matta juga, Kebanyakan mereka berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Dengan komposisi penduduk seperti itu, filosofi ‘Satu Tungku Tiga Batu’ di Fak Fak terasa begitu relevan untuk terus dipertahankan sampai kapanpun, agar dalam keseharian interaksi sosial mereka bisa berlangsung tanpa sekat. Sebuah kearifan lokal (local wisdom) yang patut ditiru.

Hal itu ada berkat pemikiran cerdas para visioner Fak Fak tiga abad yang lalu. Prinsip ‘Satu Tungku Tiga Batu’ itu juga mereka visualisasikan dalam bangunan Masjid yang dibangun persis di bibir pantai Kampung Patimburak (100 kilo meter dari Kota Fak Fak) yang memadukan bentuk Masjid dan Gereja. Bangunan dan ornamen Masjid itu menjadi simbol toleransi penuh makna. Konon, Masjid itu sudah ada sejak tahun 1700-an.

Semoga filosofi sederhana ‘Satu Tungku Tiga Batu’ dari Fak Fak ini bisa menginspirasi seluruh anak bangsa untuk menjaga kerukunan umat beragama di Tanah Air. Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close