HeadlineMetro Fakfak

Pendeta Salu : Kebangsaan Kita Mudah Terpecah Karena Politik Sektarian

“Tokoh dan Panutan Agama Terjebak Tawaran Politik yang dapat menggadaikan integritas, kesucian jabatan dan lembaga keagamaan”

Suasana Wisudah Angkatan XV Program Studi Teologi dan Angkatan XIV Program Studi Pendidikan Agama Kristen di Aula Santo Yosep Fakfak, Senin (12/11/2018) pagi kemarin.

FAKFAK, kabarfakfak.com – Pendeta Janusia Salu, M.Th mengatakan bahwa, dalam kehidupan berbangsa dan bermasayarakat dalam koridor Negara Kesatuan Repoblik Indonesia (NKRI), ditemukan kehidupan beragam, yang tidak hanya dari etnis, bahasa dan budaya tapi juga beragaman dalam Agama.

Menurutnya, keberagamaan agama di tengah keberagaman etnis, bahasa, budaya, profesi dan lainnya tentu saja pada satu sisi dapat menguatkan kehidupan kebangsaan, tetapi juga melemahkan dan menjadi ancaman kebangsaan.

Ini disampaikan Pendeta Janusia Salu dalam orasi ilmia pada Wisudah Angkatan XV Program Studi Teologi dan Angkatan XIV Program Studi Pendidikan Agama Kristen di Aula Santo Yosep Fakfak, Senin (12/11/2018) pagi kemarin.

“Akhir-akhir ini tidak dapat kita pungkiri bahwa riak-riak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Riak ini bila tidak diberi ruang dan perhatian yang cukup serius, maka dapat saja menjadi kendala bagi kehidupan bangsa kita, seperti misal dunia berpolitikan akhir-akhir ini berkembang politik yang sektarian dan politik identitas dalam masyarakat kita,”ujar Salu.

Salu menjelaskan bahwa, Politik Sektarian dan Politik Identitas lambat laun menjadi isu dan jalan mudah mencapai kemenangan. Namun sayang seiring dengan itu kebangsaan kita dengan mudah dipecah karena politik yang sektarian atau politik kebencian yang muncul akibat perbedaan suatu kelompok.

“Salah satu yang membuat kita harus menyikapi dengan kritis adalah ketika agama dan lembaga keagamaan oleh para politisi ditungangi untuk mencapai kemenangan guna memegang atau meraih kekuasaan,”kata Salu.

Belum lagi, lanjut Salu, ketika mereka yang dianggap sebagai tokoh dan panutan dalam agama terjebak dan ikut untuk mencoba menikmati tawaran dunia politik yang dapat menggadaikan integritas dan kesucian jabatan dan lembaga kegamaan.

“Bila keadaan dimana agama dan pemimpin agama serta lembaga kegamaan terjebak maka ia tidak bisa melihat dengan jelas garis tipis antara panggilan agama dan dunia politik dalam membangun dan menghadirkan kesejahteraan sosial, maka agama akan menjadi alat yang dapat membinasakan manusia,”tandasnya.

Lihatlah kata Salu, mereka yang hidup terlihat kental keagamaannya namun memandang sesamanya manusia seolah bukan manusia dengan tindakan radikalismen.

“Tindakan ini sering hanya memakai ukuran kebenaran agamanya sebagai ukuran yang satu-satunya dan mutlak. Mereka yang ada dalam masyarakat harus tunduk dan bila tidak maka iya akan mengalami tekanan,”kata Salu.

Sedangkan yang lain, ada yang memandang sesamanya manusia sebatas nilai ekonomi, sehingga harga diri kemanusiaan dan integritas diukur dari nilai ekonomi disitulah manusia dilihat hanya seabagai mahluk ekonomi, untuk itu, kondisi ini menjadi perhatian kita bersama. [monces]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close