HeadlinePolitik

Pemuka Agama di Fakfak Deklerasi Tolak Politisasi Tempat Ibadah, Sara dan Hoax

FKUB Kabupaten Fakfak Deklerasi Tolak Politisasi Tempat Ibadah/foto monces.

FAKFAK, kabarfakfak.com – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Fakfak kerjasama dengan Kepolisian Resort Fakfak, Polda Papua Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD) “Stop!!! Politisasi Tempat Ibadah”

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Anton Soerjawo Polres Fakfak, Kamis (4/4/2019) pagi tadi dibuka Kapolres Fakfak AKBP. Deddy Foury Millewa, SH, S.IK, M.IK.

Pembicara atau Narasumber, Kapolres, MUI, NU atau FKUB dan Dewan Paroki St Yosep Fakfak.

Dalam sambutannya, Kapolres mengatakan dengan adanya FGD ini menciptakan suasana pemilu yang sejuk, damai di Kabupaten Fakfak berpedoman pada filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang merupakan agama keluarga.

“Mari kita samakan persepsi menjaga keamanan agar terciptanya suasana Pemilu, sejuk dan damai di Kabupaten Fakfak,”ujarnya.

Kapolres menyampaikan terima kasih kepada para kulitinta (wartawan,red) yang selama ini ikut menjaga keamanan di daerah ini dengan pemberitaan-pemberitaan yang sejuk dan damai.

“Terimakasi kepada rekan-rekan wartawan di daerah ini yang juga ikut menjaga kota Fakfak. Dalam FGD ini kami harapkan dapat membuat kesepakatan agar menciptakan pemilu yang aman, damai dan sejuk,”pintanya.

Pada kesempatan itu, Kasat Intelkam Polres Fakfak Iptu Muhadi, SH menyampaikan materi tentang Hoax dan Ujaran Kebencian yang semakin banyak beredar di kalangan masyarakat.

Marak beredarnya berita Hoax dan Ujaran Kebencian, Kepolisian Republik Indonesia telah mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan kabar bohong (hoax) di media sosial, sebab ada sanksi hukum yang menjerat pelaku.

Suasana peserta FGD

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik,” demikian ketentuan ayat 1 pasal 28 UU ITE,”ujarnya.

Barangsiapa, lanjut dia, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

“Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan la patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun,”jelasnya.

Ketua MUI Kabupaten Fakfak Muhamadon Daeng Husein mengakui banyak beredar berita-berita Hoax terkait Pemilu berita hoax tersebut sudah masuk ke ranah Agama.

“Maka ini sangat sensitif jika agama di Politisasi yang negatif, siapapun yang terpilih menjadi pemimpin bangsa ini kami semua berharap tercipta suasana Toleran, Kita diikat oleh aturan hukum RI kita mengedepankan persatuan dan kesatuan dan itu yang kita menjadikan masyarakat Fakfak yang toleran dari dulu hingga sekarang ini,”ujarnya.

Ketua NU yang juga Ketua FKUB Kabupaten Fakfak, Ali Hindom menyampaikan terima kasih kepada Polres Fakfak yang telah menyediakan tempat untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

“Saya mengajak kita semua, mari kita menjaga kedamaian dalam pemilu di Kabupaten Fakfak pemilu adalah kepentingan Bangsa Negara dan Daerah dan untuk memajukan bangsa ini, untuk tempat ibadah saya sendiri larang untuk digunakan kegiatan politik. Untuk Hoax mari kita berantas semua karna hoax kita bisa terpecah belah persatuan,”pintanya.

Ketua Dewan Paroki St Yosep Fakfak Silvester Sia menyampaikan apresiasi setinggi – tingginya kepada FKUB dan Polres Fakfak yang telah melaksanakan kegiatan ini.

“Dengan kegiatan ini merupakan kita semua termasuk Polres Fakfak dalam menciptakan pemilu yang damai,”pintanya.

Sebagai Dewan Paroki, dia menghimbau kepada umat katolik untuk menciptakan pemilu yang damai dan tidak membuat berita Hoax.

“Secara hirarki dari pihak keuskupan telah memberikan himbauan agar selalu menciptakan pemilu yang tetap bertoleran walaupun beda pilihan, marilah bapak ibu semuanya tetap memegang teguh dan menjaga Filosofi Budaya Fakfak ‘Satu Tungku Tiga Batu’,”kata Silvester.

Sementara itu, Komisioner KPU Kabupaten Fakfak Devisi SDM menyatakan bahwa, persiapan Logistik terkait pelaksanaan pemilu sudah siap.

“Kami juga telah melaksanakan simulasi-simulasi terkait pelaksanaan pemilu dan pencoblosan, untuk saat ini pelaksanaan pemilu telah memasuki tahapan kampanye terbuka maka diperlu kedewasaan kita, toleransi kita walaupun berbeda pendapat tetap menjaga situasi yang aman,”pintanya.

Pada kesempatan itu, dubuka sesi tanya jawab berhubungan dengan politisasi tempat ibadah dan langkah-langkah FKUB, toga, tomas untuk ciptakan Pemilu damai 2019

deklarasi dan tolak Politisasi Tempat Ibadah, Sara dan Hoax oleh FKUB dan Komunitas Pers Kabupaten Fakfak, seklagus penyerahan Spanduk “Stop Politisasi tempat Ibadah” oleh Polres Fakfak kepada Masing – masing Tokoh Agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha.

Kegiatan tersebut diakhiri deklarasi dan tolak Politisasi Tempat Ibadah, Sara dan Hoax oleh FKUB dan Komunitas Pers Kabupaten Fakfak, seklagus penyerahan Spanduk “Stop Politisasi tempat Ibadah” oleh Polres Fakfak kepada Masing- masing Tokoh Agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha.

Hadi dalam kegiatan tersebut, selain Kapolres, juga hadir Waka Polres Fakfak Kompol Ilhamsyah, S.Pd, Kasat Intelkam Iptu Muhadi, SH, Kasat Binmas Iptu La Ruslan, SH, Ketua NU Fakfak Ali Hindom, Ketua MUI Kabupaten Fakfak Muhamadon Daeng Husein, Ketua Dewan Paroki Gereja St. Yosep Fakfak Silvester Sia.

Wakil Ketua Klasis GKI Fakfak Andreas Koromat, Sekretaris PHDI Kabupaten Fakfak I Putu Ajustya Sandivtha, Ketua Klenteng Tjoek Tek Sie Kabupaten Fakfak Raymund Dinosius Syahrial.

Komisioner KPU Fakfak Devisi SDM Yanuarius Kery Meak, Komunitas Pers Kabupaten Fakfak, para Imam Masjid di Kabupaten Fakfak, Para Pendeta, Pastor, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Perempuan, Pengurus Bhayangkari Fakfak dan Tokoh Masyarakat Kabupaten Fakfak. [monces]

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close