HeadlineMetro Fakfak

Pemda Fakfak dan Masyarakat Kembali Merajut Kebersamaan dalam Bingkai “Satu Tungku Tiga Batu”

FAKFAK, kabarfakfak.com – Pemerintah Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat menggelar silaturahmi dengan semua elemen masyarakat di gedung Winder Tuare Kabupaten Fakfak, Sabtu (31/8/2019) pagi tadi.

Acara silaturahmi yang diwarnai prosesi adat itu mengusung  tema : Penguatan Kebersamaan dan Persaudaraan dalam Budaya ‘SATU TUNGKU TIGA BATU’. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai wujud kedamaian pasca aksi demo damai yang berujung anarkis 21 Agustus 2019 lalu.

Susana silaturahmi diwarnai prosesi adat yang digelar Pemerintah Kabupaten Fakfak dengan semua elemen masyarakat Kabupaten Fakfak/foto monces.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Fakfak Dr. Drs. Mohammad Uswanas, M.Si, Wakil Bupati Ir. Abraham Sopheluwakan, M.Si, Penjabat Sekda Drs. H. Ali Baham Temongmere, M.TP, Kapolres Fakfak AKBP. Deddy Foury Millewa, SH. S.IK. M.IK, Dandim 1803/Fakfak Letkol Inf. Yatiman, A.Md.

Juga hadir Ketua Pengadilan Negeri Fakfak Thobias Banggian, SH, Kepala Kejaksaan Negeri Fakfak Firdaus, SH. MH dan Ketua DPRD Kabupaten Fakfak, Siti Rahma Hegemur, ST, seluruh elemen masyarakat seperti Tokoh Agama, Tokoh Adat, dan Tokoh Masyarakat.

Pantauan media ini, prosesi adat diawali pesan-pesan adat oleh tua-tua adat yakni, Philipus Kabes, Jubair Hobrow, dan Didimus Temongmere menggunakan bahasa daerah setempat, yang dilanjutkan dengan menum kopi bersama dalam bahasa daerah setempat disebut ‘Kopi Keh Nggaa Ro’.

Suasana cuci tangan dan cuci muka bersama diawali Bupati Fakfak Dr. Drs. Mohammad Uswanas, M,Si dan Dandim 1803/Fakfak Letkol Inf. Yatiman, A.Md dan Ketua LMA Kabupaten Fakfak Arsyad Wagab/foto monces.

Setelah itu, dilakukan cuci tangan dan cuci muka (wajah) bersama dan penyembelihan 3 ekor kambing yang dijadikan sebagai hewan kurban. Tiga hewan kurban itu melambangkan “SATU TUNGKU TIGA BATU” yang merupakan agama Kelurga yakni, Islam, Kristen Protestan dan Kristen Katolik.

Cuci tangan dan cuci muka bersama mengandung arti penyucian diri terhadap ucapan kalimat yang menyinggung perasaan orang lain, berujung pada konflik, sehingga adanya cuci tangan dan cuci muka bersama itu, menyucikan hati dan jiwa untuk kembali kepada Fitra.

Sedangkan penyembelihan hewan kurban mengandung arti mengakhiri gejolak atau kerusuhan yang terjadi 21 Agustus 2019 lalu bersama darah hewan kurban tersebut untuk dikebumikan.

Suasana penyembelihan hewan kurban diawali doa bersama/foto monces.

“Dalam prosesi penyembelihan hewan kurban ini juga terdapat benang putih yang diletakan bersama-sama dengan darah hewan kurban, yang artinya semua perbuatan yang tidak baik dikebumikan atau dikuburkan bersama darah hewan kurban tersebut. Semoga Allah mendengar doa-doa kita, sehingga melahirkan kedamaian di negeri ini,”ujar Abas Bahamba Pemerhati Budaya Fakfak.

Pada kesempatan itu, Bupati Fakfak menyampaikan pesan-pesan kedamaian kepada seluruh masyarakat Kabupaten Fakfak untuk tetap menjalin hubungan kebersamaan, keharmonisan, yang sudah dimateraikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Stop sudah dan akhiri sudah pertikaian ini, hari ini kitorang cuci mulut, cuci tangan, cuci hati, kita biking bersembahan kepada leluhur dan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha baik, maha kasih, jaga kita punya negeri ini, kita punya keluarga dan basudara semua di negeri ini,”ujar Bupati.

Suasana penyembeliahan hewan kurban/foto monces.

Sementara Dandim 1803/Fakfak mengajak semua masyarakat untuk berkomitmen menjaga, memelihara stabilitas keamanan di Kabupaten Fakfak dengan meningkatkan pengamanan suwakarsa, dan siskamling.

“Mari kita menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama, antar ras, antar golongan di Kabupaten Fakfak ini sebagai wujud dari Satu Tungku Tiga Batu,”ujar Dandim.

Selain itu, dandim berpesan kepada masyarakat agar menghindari adanya propoganda, yang dapat menimbulkan konflik, “Jangan mudah diajak, diprovokasi, ikut-ikutan,”pinta Dandim.

Suasana foto bersama Bupati Fakfak, Forkominda dan semua elemen masyarakat/foto monces.

Senada Dandim, Kapolres Fafakfak mengingatkan masyarakat agar selalu berembuk, berkoordinasi untuk menyelesaikan setiap masalah, sehingga tidak berujung konflik.

“Kalau ada masalah mari kita berembuk bersama, kalau ada masalah sakit hati, ayo kita tindak pelaku yang biking sakit hati, ada proses hukumnya, jangan disana rusuh, disini yang rusak, mari kita berpegang teguh pada semboyan kita ‘Satu Tungku Tiga Batu’ ada Idu Idu Manina Djojo, satu kata, satu rasa, satu hati,”imbuh Kapolres.

Pada kesempatan itu juga dibacakan pernyatakan sikap oleh salah satu Tokoh Masyarakat Izak Bahamba, yang berisikan 4 poin penting yakni, 1) Setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia.

2) Berkomitmen untuk senantiasa bersama-sama menjaga, memelihara stabilitas keamanan dan ketertiban diwilayah Kabupaten Fakfak.

3) Senantiasa menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama, kebersamaan antar sesama suku, ras serta antar golongan sebagai wujud dari nilai Bhineka Tunggal Ika dan budaya Satu Tungku Tiga Batu, Satu Hati, Satu Saudara, Idu Idu Manina Djojo.

4) menjamin terselenggaraanya penyelenggaraan pemerintahan, pembinaan kemasyarakatan, dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan secara nasional pada umumnya dan khususnya di Kabupaten Fakfak.

Suasana konferensi pers yang disampaikan Bupati Fakfak dihadiri Forkominda/foto monces.

Pernyataan sikap tersebut ditanda tangani oleh Bupati Fakfak, Ketua DPRD Kabupaten Fakfak, Kepala Kejaksaan Negeri Fakfak dan Ketua Pengadilan Negeri Fakfak.

Acara silaturahmi yang dilaksanakan dengan penuh hikmah itu diakhiri foto bersama dan konferensi pers yang disampaikan Bupati Fakfak dihadiri Forkominda. [monces]

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close