HeadlineMetro Fakfak

Pembangunan Embung di Sekru Dipalang, Marga Samai Tuntut Ganti Rugi Tanah Ulayat Rp 6 Milyar

FAKFAK, kabarfakfak.com – Pembangunan embung di kampug Sekru Distrik Pariwari Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat dipalang oleh pemilik hak ulayat marga Samai, Senin (2/3/2020) sekitar pukul 10.00 WIT.

Marga samai menunut pihak perusahaan atau pemerintah mengganti rugi tanah ulayat yang sedang dibangun embung sebesar Rp 6 Milyar, jika tidak, maka palang tidak bisa dibuka.

“Taruh uang enam milyar dulu baru kami buka pulang, kalau tidak palang tidak dibuka, dan ingat perusahaan belum bisa melakukan pekerjaan pembangunan selama palang masih ada,”Halima Samai.

Senada juga Kristian Samai Heretrenggi, dia mengaku kecewa dengan pihak perusahaan yang tidak melakukan koordinasi dengan pemilik tanah ulayat.

Mereka (pihak perusahaaan,red), lanjut dia, hanya melakukan kooridinasi dengan pemilik pohon, dan pembayaran ganti rugu telah dilakukan sesuai permintaan.

“Nah, kami pemilik tanah ulayat belum dibayar. Maksud saya dengan saya punya anak-anak, basudara ini tuntut ganti rugi tanah enam milyar rupiah, kalau sudah ada pembayaran, saya tidak makan sendiri, keluarga besar makan ramai-ramai,”kata Kristian Samai.

Sementara Ketua Peradilan Adat Dewan Adat Mbaham Matta Kabupaten Fakfak Jubair Hobrouw mengatakan, kehadirannya semata hanya untuk mediasi kedua belah pihak (perushaan dan pemilik tanah ulayat,red) untuk menyelesaikannya.

“Kehadiran saya disini hanya sebatas mediasi, untuk bagaimana persoalan ini segera selesai agar pembangunan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar,”kata Jubair.

Meurut Jubair, bukan saja pihak perusahaan dan pemilik tanah ulayat dipertmukan, tetapi pemilik pohon pala juga yang harus duduk sama-sama membahas persoalan tersebut.

“Kenapa semua pihak baik perusahaan, pemilik hak tanah ulayat dan pemilik pohon dipertemukan, karena pemilik tanah ulayat ajukan surat ke pemda, tetapi kemudian pemilik pohon juga ajukan surat lagi, padahal pemilik pohon sudah terbayar, nah ini yang harus duduk sama-sama bicarakan baik, karena belum tentu pemilik pohon punya tanah ulayat, dan belum tentu pemilik tanah ulayat punya pohon pala,”terangnya.

Sementara pihak perusahaan mengakui bahwa, telah membayar ganti rugi pohon pala sesuai peraturan daerah setempat. Sedangkan pemilik tanah ulayat perusahaan sedang melayangkan surat ke Pemerintah Daerah Kabupaten Fakfak.

“Saya dari perusahaan hanya membantu membuat surat apa yang diminta masyarakat kemudian sama-sama dengan kepala kampung sekru dan kepala distrik ajukan ke pemerintah daerah,”ujar Anto pelaksana pekerjaan dari perusahaan PT. Sanggori yang beralamat di Manokwari. [monces]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close