Metro Fakfak

Awal Terbentuk Kelompok Tani di Kwuhkendak, Ini Ceritanya

FAKFAK, kabarfakfak.com – Awal terbentuk kelompok tani yang diberinama Pujangge ini sudah berjalan dua bulan lamanya, namun secara grafis masih menggunakan tata cara tradisional.

Melihat kelemahan itu, Kepala Distrik Barat Muhammad Ilham Nurdin, S.STP, M.Si yang secara kebetulan terangkum dalam Komunitas Pemuda Fakfak menyatuhkan pola pikir membentuk tim kecil yang diberinama Tim Riset Pemuda Fakfak.

“Berbagai latar belakang pendidikan pemuda-pemuda Fakfak terakomodir dalam Tim Kecil ini mulai melihat lokasi, melakukan konsultasi, komunikasih, baik dari kelompok tani maupun kepala kampung,”ujar Ilham usai menghadiri dan menyaksikasn Launching 13 Kampung Berdikari diwilayah Papua Barat, Sabtu (27/6/2020).

Dari langkah prefentif dan komunikatif itu, lahirlah sebuah ide cemerlang yang dimulai dari tahap langkah-langkah kecil, sehingga pihak Kepolisian Resort Fakfak mulai melihat bahwa lahan pertanian sudah ada sehingga menjadikan Kwuhkendak sebagai Pilot Projeck Kampung Berdikari yang baru saja di Launching oleh Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.

“Saya sebagai Kepala Distrik, juga atas nama Masyarakat Fakfak Barat menyampaikan terima kasih kepada bapak Kapolres yang telah menjadikan lahan pertanian di kampung Kwuhkendak ini sabagai Pilot Project, ini langkah awal sebuah gerakan untuk kampung-kampung lain diwilayah Fakfak Barat,”kata Ilham.

Adanya kampung Berdikari ini, dia mengingatkan kepala kampung, dan juga masyarakat yang ada di Distrik Fakfak Barat untuk memulai dari diri masing-masing,

“Kemudian dukungan dari pihak-pihak lain, itu merupakan bonus, namun tetap kita memulai dan menunjukan bahwa kita yang melangkah, kita yang menentukan arah, dan kita merasakan apa yang menjadi sebab akibatnya,”pintanya.

Sementara terkait dengan Komunitas Pemuda Fakfak membantu Petani Pujangge ini, lanjut Ilhman hanya bersifat sosial guna meningkatkan perikonomian dan mensejahterakan kelompok tani.

“Jadi kita pemuda Fakfak melakukan pendampingan bukan saja tanam, tetapi sampai manajemen pemasaran, inilah fungsi anak-anak muda, mama dorang pung anak-anak ini sudah yang akan menggerakannya, jadi seperti itulah historinya,”jelasnya.

Disebutkannya, pemuda yang terbangung dalam Tim Riset Pemuda Fakfak ini antara lain berasal dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), dan Fakfak Mengajar.

“Tim Riset Pemuda Fakfak ini sedang berjalan, Contoh disini (kwuhkendak) pertanian, tetapi di Teluk Patipi potensi wisata yang sekarang berjalan, itu merupakan tahapan-tahapan, gerakan-gerakan dari pemuda Fakfak,”jelasnya.

Pemuda yang tergabung dalam Tim Riset Anak Muda Fakfak ini mau buktikan bahwa, anak muda ini ada, dan mampuh untuk menggerakan, namun tetap membutuhkan nasehat dan saran, tentunya tuntunan dari orang tua-tua untuk berkaloborasi antara kearifan lokal dengan metode zona moderen yang ada.

“Harapan saya secara pribadi, bahwa Fakfak ini butuh pemuda untuk bergerak sebagaimana apa yang dikatakan Presiden Soekarno “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnua, Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”itulah makna filosofinya.

“Saat ini Fakfak krisis pemimpin-pemimpin muda, untuk itu mari kita sama-sama bergerak tunjukan apa yang kita punya memulailah walaupun dengan langkah-langkah kecil. Pemuda pasti bisa pemuda pasti mampuh dan itulah tanggungjawab kita pemuda yang ada di Kabupaten Fakfak,”tandasnya.

Senada juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Pujangge Paulina Hombore bahwa, terbentuknya kelompok tani Pujangge ini dari program Gerakan Membangun Kampung Bercahaya (Gerbangkaca) Program Bupati Fakfak Mohammad Uswanas dan Wakil Bupati Fakfak Abraham Sopaheluwakan.

“Kita masuk buka lahan disini, selesai itu, datanglah kepala distrik bersama anak-anak muda Fakfak untuk olah lagi menjadi lahan yang begitu indah bagus, untuk tanaman Sawi, keladi, petatas, ubi kayu, buncis, kangkung, sawi manis yang sampai saat ini boleh kita lihat dan saksikan bersama,”ujar Pauluna.

Dia berharap dan ingin petani yang dipimpinya maju, sejahtera, walaupun tidak ditunjang dengan dana begitu besar, tapi jiwa semangat kesetiaan untuk membangun usaha kerja.

“Kami petani disini berjumlah 5 kk atau kepala keluarga, semuanya dari Werba, yang punya lahan wilayah Kampung Kwuhkendak berharap dan ingin maju dan sejahtera. Sejahtera untuk keluarga, dan bermanfaat juga untuk orang banyak melalui hasil pertanian yang ada,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Werba Ridolof Tuturop menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah, karena kampung Werba masuk sebagai desa gerbang kaca.

“Sebagai desa gerbang kaca ini, maka dari dinas pertanian memberikan peluang bagi kami bidang pertanian, dan prosesnya ada dua kelompok,”ujarnya.

“Satu kelompok tani tanaman buncis yang saat ini kita saksikan, dan satu kelompok lagi petani jagung, namun kelompok jagung dalam perjalanan tidak berhasil, kelompok buncis berhasil 3 kali panen,”tambahnya. [monces]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close