Metro Fakfak

Kerapatan Adat Fatagar Bahas Pemetaan Wilayah Petuanan

Suasana kerapatan adat dihadiri Warnemen, Kapitan, Sangaji, dan beberapa orang tua adat diilayah petuanan Fatagar/foto monces.
Suasana Warnemen, Kapitan, Sangaji, dan beberapa orang tua adat diilayah petuanan Fatagar melihat petah wilayah Fatagar/foto monces.

FAKFAK, kabarfakfak.com – Raja Fatagar Taufiq Heru Uswanas memimpin kerapatan adat di rumah Raja Fatagar Jln Isak Telussa Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat, Kamis (2/7/2020) siang.

Rapat dihadiri Warnemen, Kapitan, Sangaji, dan beberapa orang tua adat diwilayah petuanan Fatagar.

Juga hadir Pimpinan Yayasan Aspirasi Kaki Abu untuk Perubahan (AKAPe) dan Pimpinan Inovasi Bumi (INOBU) sebagai fasilitator.

Raja Fatagar Taufiq Heru Uswanas mengatakan bahwa, kerapatan adat ini dilakukan untuk pemetaan wilayah Petuanan khususnya Petuanan Fatagar.

“Batas wilayah petuanan yang kita bahas ini, nantinya akan dibahas bersama Petuanan laiinya yang telah melaksanakan kerapatan adat yang sama,”ujar Raja Fatgar ditemui usai memimpin kerapatan adat petuanan Fatagar.

Hal ini, menurut Raja Fatagar sangat penting untuk nantinya menjadi instrumen, untuk didorong menjadi Peraturan Daerah (Perda).

“Jika batas wilayah hukum adat ini menjadi Perda, maka investor yang ingin menanam saham di Fakfak tidak ragu lagi, dan ini menjadi patokan bagi generasi kita selanjutnya,”kata Raja Fatagar.

“Hal ini juga menjadi salah satu amanat undang-undang yang mengatakan bahwa, hak-hak masyarakat adat wajib dilindungi,”tambah Raja Fatagar.

Pertemuan yang difasilitasi oleh AKAPe dan INOBU ini, dilakukan untuk seluruh Petuanan diwilayah Kabupaten Fakfak, dimana dari 7 petuanan, 5 petuanan telah melaksanakan kerapatan adat petuanan.

“Lima petuanan yang sudah melakukan kerapatan adat yaitu, petuanan Fatagar, Rumbati, Wertuar, Patipi dan Petuanan Arguni. Sedangkan sisa dua petuanan lagi yaitu, petuanan Ati-Ati dan Petuanan Pikpik-Sekar,”ujar Greg R. Daeng Manajer Hukum Yayasan INOBU.

Kehadirian INOBU dan AKAPe sebagai Fasiltator ini, menurut Greg, merupakan kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Salah satu aitem yang kita dukung saat ini adalah, melakukan pemetaan wilayah adat atau pemetaan hukum adat untuk meregistrasi masyarakat hukum adat di Kabupaten Fakfak,”pungkasnya.

Menurutnya, pengakuan masyarakat adat seperti ini merupakan sebuah komitmen Pemerintah Pusat dari turunannya adalah putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 tetang Hukum Adat.

“Untuk itu dipandang perlu untuk kolaborasi pengakuan hukum adat, jadi tidak hanya pemerintah daerah sendiri, tetapi identitas hukum adat itu juga, yang mana di Fakfak kita sebut petuanan, untuk sama-sama mendukung registrasi hukum adat melalui penetapan Perda,”kata Greg.

Dikatakannya, registrasi hukum adat ini melalui Perda sudah tentu mendukung pembangunan berkelanjutan, karena pembangunan berkelanjutan ini juga mendukung aspek lingkungan hidup dan masyarakat adat.

“Kedaulatan wilayah hukum adat ini salah satu ukuranya adalah peta, dan cerita masyarakat hukum adat termasuk struktur-struktur adat itu ada didalamnya,”ujarnya.

“Kenapa perlu adanya peta, supaya basis kedauluatan masyakat adat itu punya, sehingga tidak ada saling klaim satu sama lain, tetapi masing-masing petuanan itu sudah berdiri kedepannya dengan wilayah adatnnya masing-masing,”jelasnya.

Senada juga disampaikan Zainudin Fiandin, Pimpinan AKAPe bahwa, hasil dari kerapatan adat masing-masing petuanan ini tertuang dalam Berita Acara, yang nantinya akan dibahas bersama dalam forum adat 7 Petuanan di wilayah Kabupaten Fakfak.

“Forum adat ini akan kita gelar setelah pertemuan atau kerapatan adat petuanan antar petuanan terkait batas wilayah, misalnya batas wilayat petuanan Patipi dengan Wertuat, itu yang akan dipertemukan untuk bahas bersama batas wilayahnya,”kata Zainudin.

Setelah itu, lanjut dia, akan dilakukan forum adat 7 Petuanan yang hasilnya akan diajukan ke Pemerintah Daerah intuk ditetapkan wilayah hukum adat 7 petuanan di Kabupaten Fakfak.

“Setelah ditetapkan akan menjadi instrumen untuk kita akan mendorong menjadi Perda,”jelasnya. [monces]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close