HeadlineHukum & Kriminal

Pembunuhan Sudiana, Hakim Putuskan 20 Tahun Penjara, PH Ajukan Banding

Suasana sidang kasus dugaan pembunuhan Sudiana/dok.

FAKFAK – Nety Angriyanto terdakwa pembunuhan Sudiana Angriyanto, setelah menjalani proses persidangan sejak tahun 2018, akhirnya di vonis bersalah dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh Hakim Pengadilan Negeri Fakfak.

Putusan tersebut jauh lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penutut Umum (JPU), yang menuntut Nety Angriyanto dihukum 15 Tahun penjara, dari tuntutan itu Hakim Pengadilan Negeri Fakfak menjatuhi hukum naik menjadi 20 tahun, lebih 5 tahun dari tuntutan JPU.

“Iya, tuntutan jaksa penuntut umum 15 Tahun penjara, sedangkan putusan hakim 20 tahun untuk terdakwah Nety Angriyanto, dan putusan tersebut kami diberikan kesempatan sehingga kuasa hukum menyatakan akan pikir-pikir,”Jelas Djijin Suryadi, SH, salah satu Penasehat Hukum terdakwa Nety Angriyanto saat ditemui di Lapas Kelas II B Fakfak.

Djijin mengatakan, pihaknya belum menerima salinan amar putusan pengadilan yang menjatuhi hukuman 20 tahun penjara, Djijin berjanji akan mempertimbangkan putusan tersebut dan jika memungkinkan maka diajukan banding

“Hasil putusan dari pengadilan negeri fakfak kami belum terimah, dan kami akan ajukan banding” Ujarnya

Sedikit terganjal, Tim Penasehat Hukum terdakwa Nety Angriyanto adalah, dari tuntutan jaksa untuk Nety dihukum sebanyak 15 tahun penjara, kemudian hakim mempalusidangkan menjadi 20 tahun, Djijin malah merasa aneh, betapa tidak, Jaksa akhirnya menyatakan akan ajukan banding atas putusan tersebut

“Tuntutan 15 tahun penjara, putusan 20 tahun oleh majelis hakim, Jaksa banding, sementara Neslon yang tuntutan 20 tahun dan divonis 18 tahun penjara, tidak diajukan banding, ada apa sebenranya,” tanya Djijin.

Sementara Nelson, terdakwah pembunuhan Sudiana Angriyanto, hakim menjatuhi hukuman sebesar 18 tahun penjara, putusan tersebut turun dari tuntutan JPU yaitu 20 tahun penjara,

Kuasa Hukum Nelson, Yunus Basari,SH, pihaknya belum berhasil dikonfirmasi, Nelson dan Nety saat ini masih mendekam di sel tahanan Lapa Kelas IIB Fakfak,

Sebelumnya, dalam keterangannya kepada penyidik Reskrim Fakfak, Nel yang beristrikan orang Fakfak dan tengah mengandung 8 bulan ini, dengan gamblang mengakui dan menceritakan perbuatannya, membunuh Aci Doang, panggilan Sudiana.

Awalnya, Nel berkelit bahwa dirinya tidak membunuh siapapun. Dia berkilah bahwa, dirinya melihat hantu pocong dan memotong lehernya dengan bambu. Namun akhirnya, Nel mengaku bahwa dirinyalah yang mengeksekusi Aci Doang di ruang tamu rumahnya pada Selasa (27/2) jam 10 malam.

Yang mengejutkan, Nel juga mengaku bahwa, dia membunuh atas perintah Net, Ang, Jack dan Tedjo yang keempatnya ini masih bersaudara dengan korban. Sebelum membunuh Aci Doang, dia ke rumah adik bungsu Aci Doang, yakni Net, dan disana sudah ada beberapa orang.

“Saya beberapa kali didesak terus oleh mereka untuk segera mengerjakan perintahnya. Akhirnya malam itu saya laksanakan perintah mereka,” kata Nel.

Nel mengatakan, bahwa dirinya diminta untuk datang ke Fakfak dan sebelum pembunuhan itu, dia sudah sekitar satu bulan di Fakfak. Dan dalam satu bulan itu, dia terus didesak bersaudara yang berniat membunuh kakaknya itu.

“Akhirnya saya mengambil parang yang saya ambil dari rumah Ibu Net. Lalu saya masuk ke rumah almarhumah dari pintu belakang. Saya mendapati Aci tertidur di kursi. Saat saya cekik, dia berontak dan terjatuh di lantai. Lalu saya tindis dan cekik dengan tangan kiri. Dan tangan kanan saya XXXXXX korban sampai putus. Saya keluar dari pintu belakang lagi,” tutur Nel.

Nel mengaku sempat mengepel lantai sambil berjalan mundur untuk menghiangkan jejak kakinya. Dan yang masih meragukan adalah, dia mengaku telajang dan hanya menggunakan celana dalam, adalah idenya dia sendiri. Tindakan ini untuk memudahkan pelaku untuk menghilangkan cipratan darah korban.

Setelah mengeksekusi korban, Nel kembali ke rumah Net dan mandi di profil tank kuning di belakang rumah serta membuang parang dan kain merah di dekat situ. Dan kepada Net, Nel sempat menagih janji mereka.

“Ibu Net mengatakan bahwa saya tidak perlu kuatir. Katanya, mama tidak akan membiarkan saya  sengsara,” kata Nel. “Saya juga diminta untuk menghilang oleh Ang. Saya diberi uang 2 juta yang saya terima dari Net dan saya pakai ke Sorong dengan KM. Kalabia. Katanya, sisanya akan dibayar setelah menyelesaikan tanah Polsek,” lanjutnya.

Jumat (2/3) disaat jenasah Aci Doang ditemukan, ternyata Nel sempat antri pesawat di bandara Torea, Fakfak. Namun, hari ini itu dia tidak mendapatkan seat pesawat, hingga keesokan harinya, dia ke Sorong dengan KM. Kalabia.

Kapolres Fakfak, AKBP. Deddy Foury Millewa, SH. S.IK.M.IK. menjelaskan bahwa, motif pembunuhan yang direncanakan oleh empat bersaudara itu adalah masalah penguasaan harta warisan, yakni tanah yang saat ini berdiri Kantor Polsek Fakfak Kota.

“Motifnya adalah masalah penguasaan harta warisan,” terang Kapolres sambil menjelaskan bahwa, Net diduga kuat sebagai otak atas pembunuhan berencana yang diancam dengan pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati ini.

Disinyalir, empat bersaudara itu ingin mendapatkan hak atas tanah Mapolsek tersebut, dan kakak tertua mereka, Aci Doang, dianggap menghalangi dan harus disingkirkan. [ret/monces]

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close